JAKARTA,
— Setelah mengalami kenaikan selama lebih dari satu pekan, akhirnya indeks Bursa Efek Indonesia melorot ke zona merah, mengikuti pelemahan Wall Street dan mayoritas bursa regional.
Indeks Harga Saham Gabungan, Selasa (21/4), ditutup turun 1,99 persen atau 32,996 poin pada 1.628,849. Saham-saham infrastruktur, perbankan, dan komoditas menekan pergerakan saham di BEI.
Sementara indeks Kompas100 melemah 2,39 persen, kemudian indeks LQ45 merosot 2,59 persen, serta Jakarta Islamic Index menyusut 2,80 persen.
Pada perdagangan hari ini terdapat 90 saham naik, 92 saham turun, dan 62 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 6,415 triliun dari 190.020 kali transaksi dengan volume 23,475 miliar saham.
HARGA EMAS
Harga emas di pasar internasional melejit, seiring tekanan yang terjadi di pasar saham, sehingga investor kembali memburu logam mulia ini sebagai investasi aman baggi duitnya.
Di New York Mercantile Exchange, Senin (20/4) waktu setempat, harga emas ditutup pada 887,00 dollar AS per troy ounce, naik dibanding penutupan akhir pekan lalu di posis 867,40 dollar AS.
Hal serupa juga terjadi di pasar Hongkong, Selasa pagi, seperti dikutip AFP, harga emas dibuka menguat ke posisi 886,50-887,50 dollar AS per ounce, naik dibanding penutupan Senin pada 868,50-869,50 dollar AS.
MINYAK DUNIA
SINGAPURA,
— Harga minyak melemah di perdagangan Asia, Selasa (21/4), menyusul penurunan tajam harga saham AS memunculkan kembali kekhawatiran terhadap memburuknya ekonomi dan dampaknya terhadap permintaan energi.
Kontrak berjangka utama di New York, minyak mentah light sweet untuk penyerahan Mei turun 44 sen menjadi 45,44 dollar AS per barrel pada perdagangan sore. Pada hari Senin kontrak minyak turun hampir sembilan persen di AS. Sementara minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Juni turun 31 sen menjadi 49,55 dollar AS per barrel.
Para analis mengatakan, harga kembali menyesuaikan diri dengan kondisi aktual di pasar minyak. "Koreksi yang terjadi menghapus kenaikan yang tidak sesuai dengan kondisi fundamental pasokan dan permintaan," kata Antoine Halff, Wakil Direktur Utama NewEdge Group.

Perlambatan global telah menurunkan permintaan energi dan menarik turun harga minyak dari puncak pada sekitar 147 dollar AS per barrel pada tahun lalu.
Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab (UAE) mengatakan, Senin, bahwa harga minyak pada 50 dollar AS per barrel akan mendukung ekonomi global, UAE merupakan produsen minyak terbesar kesembilan di dunia.